Tepat pada 37°29′ LU 126°38′ BT aku berdiri menikmati udara sore di kota metropolitan Incheon, sebuah kota utama di pesisi barat Korea Selatan. Hiruk pikuk kendaraan memenuhi jalanan Ulwang-Dong, tapi hatiku sepi. Sesepi dunia seperti ruang buta yang hampa setia berputar pada porosnya.
Pada sudut-sudut kota kulihat hampir seluruh manusia di sini merayakan atas cinta. Laki-laki, perempuan, muda dan tua bersatu hanya karena cinta semalam buta. Tapi aku di sini hanya diam menyaksikan runtuhnya jejak-jejak rindu yang mati di tahap wishful thinking belaka.
aku bergegas menuju Daejeon, sekitar 2.5 jam dari Incheon. Air mataku mengalir, karena di saat saat seperti ini aku sangat merindukan kekasihku, Dewa Angin yang selalu berhembus ketika fajar tersenyum di negeriku. Pertautan cinta terlarang antara anak manusia dan seorang Dewa. Entah mengapa???
Sudah hampir semusim aku meninggalkanmu jauh dalam kenanganku, aku begitu kesepiannya hingga melarikan diri jauh ke negeri sebrang, sebab cinta padamu dan juga cinta pada diriku sendiri. Aku lari dari kemelut dan maut, karena ingin terus hidup demi berbagi batin denganmu. Tapi izrail terus membuntutiku kemana pergi.
Sebagai manusia yagn telah habis masa kanaknya, aku menegadahkan tangan memohon cintamu, tapi engkau tepis dengan berjuta diam yagn tak pernah kutau maknanya.
Ah Dewa angin yagn kucinta dalam jarak yagn tak tertepis, rindu ini seperti sajak yang tiap katanya membunuh ingatanku padamu, belum habis manis yagn kurasa sejak pertama kita membunuh waktu, tapi engkau telah menguap menuju pantai di senjanya Kaimana..
Hilir mudik menembus samudera pasifik utara , untuk terakhir kalinya aku memaksakan diri mengingatmu untuk merasakan dirimu berhembus dalam ingatanku dan pergi menarik diri menuju duniamu sendiri.. entah sampai kapan..
In my last memory… that day, when hopes vaporized in each poles.. I could see that eyes, I could see that smile, I could see the amazed feeling between heaven and earth..
And how I wish I could tell you how I missed when looked at in your eyes, but I know it’s not the time and place to get emotional..
Dalam mobil bersama Park Ji Hyeong, aku menyerahkan hidupku pada lauful mahfudz..
Bersamaan itu.. airmataku rintik, jatuh menyatu tenggelam dan mengalir bawah Daejeon Expo Bridge terbang bersama semilir angin Gyeongbu menuju anganku..
Akankah sampai padamu juga??
Nb : Masa 6 bulan tak mnyurutkan asa.. rasa ini masih ada dan hangat..
Bukankah itu yang semua orang cari??
Wed, 20 May 2009