rizky_da_great

April 21, 2009

tidak ada yang seberharga dan sebernilai manusia, tapi kami diperlakukan seperti sampah

Filed under: Uncategorized — anastasia87 @ 6:31 am

1ghost4Bratislavia, April 21st 2009

 

Pagi ini seusai menyiapkan Bryndzové halušky untuk sarapan suamiku.. aku menatap pemandangan luar dari balik jendela kamar yang terbalut teralis besi.. kupandangi anak2 rantau dari Indonesia bersorak-sorai memenuhi Hviezdoslavova dengan pakaian adat tradisional masing-masing..

 

Kuingat lagi masa kanakku bersama kawan lamaku, Rengganis dan Syakuntala.. kami 3 orang sahabat yang bersama melarikan diri dari hitamnya kehidupan masa kecil. Kami sering mengikuti festival kartini setiap tanggal 21 April dari tahun ke tahun dengan menggunakan dodot kesayangan kami..

 

Rasa sakit di pelipis kiriku masih terasa, suamiku Jaroslav Gašparovič sering kali mendaratkan tangannya atau benda tumpul di atas tubuhku dengan keras dengan dan tanpa alasan yagn logis seperti tadi malam.

 

Ini adalah tahun ke 6 aku bersamanya dan ikut merantau ke negeri orang. Suamiku adalah seorang Supply Chain Management Coordinator di salah satu perusahan electronics terkemuka di dunia, sedang aku? Dulu selama 2 bulan Aku hanya seorang guru menengah atas di Gymnázium Alexandra Markuša Červenej armády (GAMČA), dulu kami mempunyai seorang putri bernama Alzbetka Gašparovičova, tapi tak lama anak semata wayang kami menderita Leukimia dan telah berpulang 3 tahun yang lalu, sejak itu kehidupan rumah tangga kami tidak seharmonis dulu dan kejiwaanku juga hanya setengah yang waras, begitu kata suamiku. Oleh karena itu, aku selalu dikurung di dalam flat sewaan yang menghabiskan uang sebanyak   625/ month

 

 

21 April (23 tahun yang lalu)

 

Seperti biasanya sebagai cah ayu jowo, Rengganis, Syakuntala dan aku pagi-pagi telah didandani cantik untuk berfestival di Solo dengan semangat meski tak satupun dari kami yagn berasal dari Jepara tapi rasa takzim kami kepada Ibu Kartini tak pernah lekang oleh usia-usia kami yagn beranjak dewasa.

Kami tak pernah henti hentinya bercerita tentang ibu Kartini yang telah memperjuangkan emansipasi wanita, memerdekakan wanita dari belenggu penjajahan sosial dan aspek lainnya.. Berangkat dari titik pikir seperti itu, setiap tahunnya kami sering mengadakan pertemuan pribadi untuk ngalor ngidul tentang kemerdekaan. Kemerdekaan seperti apa ya? Ya.. kemerdekaan bagi diri kami sendiri yang hilang ditelan masa kecil. Kemerdekaan yang selalu kami rindukan setiap malamnya. Kemerdekaan untuk bisa berteriak lantang mengenai siapa kami..

 

Kami tiga remaja yang berparas ayu, Di setiap garis wajah kami tersirat misteri dari jejak kehidupan yang pernah terlewati. Kami anak-anak remaja yagn berusaha terlihat normal dan bahagia. Kesedihan dan kekecewaan tentang hidup sering kami expressikan dalam bentuk lantunan macapat Jawa  Megatruh. Kami lahir dari liang senggama hasil persilangan haram, kami dikutuk dan dikucilkan. Karena kami tak punya bapak. Tapi berbeda dengan Syakuntala, dia punya Bapak tiri seorang mantri hebat di kampung, tapi kehebatannya sering sirna tatkala ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Bapaknya menedangi dan menyeret ibu untuk dipukuli, syakuntala hanya diam menangis dan sering kali tangisannya mengundang cacian dari Bapak “Diam kamu, Dasar anak sundal, pembawa Sial!”

 

Berbeda dengan Rengganis, dia lebih bahagia dari Syakuntala karena ia tidak punya bapak, tidak ada yang bisa mencacinya dengan kata-kata kotor seperti itu, lebih bahagia dari syakuntala karena ia tidak perlu melihat ibunya harus dipukuli laki-laki dewasa. Tapi ia juga tak bahagia jika harus melihat dengan mata kepalanya sendiri jika ibunya sedang bersenggama dengan laki-laki yagn berbeda setiap harinya.

Rengganis sangat terpelajar dan elok rupanya. Banyak yagn tergila-gila dengan keelokan tubuhnya yagn putih bersih. Dia banyak belajar tentang agama tapi rengganis tak percaya tuhan.  Meskipun dia sering berbicara Extra Ecclesiam Nulla Salus (Ecclesiastical exclusivity) tapi ia tak percaya pada Katholik. Atau outside Christianity no salvation (Christianity exclusivity) ia pun tak percaya pada roh kudus dan Yesus atau bahkan ia sering sangat hafal dengan Surah Ali Imran ayat 19 => moslem exclusivity (The Religion before Allah is Islam (submission to His Will): Nor did the People of the Book dissent therefrom except through envy of each other, after knowledge had come to them. But if any deny the Signs of Allah, Allah is swift in calling to account), akan tetapi tak satupun ia mengimani, bagaimana dengan Budha dan Hindu? Dia tak peduli juga.

 

 

Sedang aku? Aku hanya seorang remaja yang bernama Gendis, tak kalah seperti teman-temanku, aku pun berparas cantik tak lain karena aku keturunan setengah manusia dan setengah peri. Suaraku merdu dan acap kali melantunkan macapat kematian. Jika aku bernyanyi maka seluruh peri alam raya mendatangiku dan meraung-raung seperti binatang kelaparan. Keluargaku? Aku tak ingat apakah aku punya keluarga atau tidak? Bapak dan Ibu bercerai jauh sebelum aku dilahirkan, kata Ibu, ayahku Peri hutan alias Genderuwo. Entah benar entah tidak, aku pun tidak pernah peduli. Ibu hanya penjaja nasi kucing, tapi sesekali juga melonte. Aku tidak peduli..

Diatara kedua sahabatku Aku sering merasa paling beruntung karena aku dipinang oleh bule slovakia di usia menginjak 24 tahun saat berlibur ke Jogjakarta. Tapi kehidupan seperti biasanya tak seindah yagn dipikirkan. Takdir pun sedang tak berpihak pada siapapun. Aku pun bermigrasi menuju Bratislavia.

 

 

Pukul 08.00 CET

 

Aku menilisik kembali jendela, tanggal 21 April 2009, ini tahun keenam aku tak kembali berjumpa dengan sahabat-sahabat lawasku. Kudengar Syakuntala telah menjadi istri seorang dokter dari kelaten, teman ayahnya sewaktu masih menjadi Mantri di kampung. Tapi dokter bejat! Karena terlibat skandal bisnis aborsi di Semarang. Syakuntala pun tak bahagia karena acap kali harus menanggung derita seratus kali lipat dari masa kecilnya, meski Ayahnya telah meninggal karena penyakit sampar. Tapi kini ia sering mendengar cacian dari mulut suaminya dari bui besi “KUDUNE CAH LONTE KOYO KOE TAK ABORSI SEJAK OROK, ASU NDASMU!!” akhir tahun 2008 kemarin tepatnya 28 Desember 2008, Syakuntala memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan 49 pil euthanasia yagn berbahan dasar Nembutal.

 

Sedang Rengganis yang kini tinggal di Bandung pernah mengirimiku berita melalui e-mail, juga bercerita bahwa baru dua tahun belakangan ini dia memeluk agama Islam dengan taat setelah nasibnya buruk yagn menimpanya  3 tahun lalu, tepat sehari setelah kartini 22 April 2006, seorang teman prianya dan temannya telah membius dan memperkosanya dan dibuang ke daerah Sumatera. Dia mulai kecanduan obat-obat penenang dan akhirnya kembali ke bandung mendapat pertolongan dari Psychiatrist di Cisarua secara kontinu.

 

Kembali aku menelisik Hviezdoslavova yagn tak lagi dikerumuni anak-anak Indonesia yang ayah dan ibunya tinggal dan bekerja di Slovakia. Ingin rasanya hari ini keluar tapi semua pintu dan jendela telah terkunci rapat. Jaroslav takkan membiarkanku sedetikpun menikmati udara luar. Dia akan kembali ke rumah dengan keadaan mabuk berat dan kembali memukuli aku, karena tak bisa memberikan lagi keturunan kedua. Aku hilang hasrat untuk bercinta. Menjadi frigid.

 

Jenuh kurasakan hari ini, semangat Ibu Kartini telah pupus dalam dadaku. Tak ada lagi emansipasi yagn hidup dalam rongga otakku. Aku beranjak menuju closet ( lemari baju.red) dan mencari Dodot kesayanganku sewaktu pernikahan dengan Jaroslav di kampung dulu. Kukenakan hati-hati dan aku bersiap merias wajahku secantik mungkin.

 

Pikirku semangat Kartini telah lenyap dan harus kukobarkan kembali. Hari ini aku harus bebas, bebas semaunya. Kujatuhkan pandanganku ke arah pohon Ek karena ingin rasanya berada di sana. Kucari dan kutemukan kain panjang karena kain ini bisa membantuku untuk turun mencapai pohon Ek itu dari jendela kamarku ini, pikirku. Aku harus bisa.. harus bisa..!! tak terbantahkan!

Kursi kudorong menuju jendela dan kuikatkan kain itu kuat-kuat pada teralis besi yang tinggi supaya aku tidak jatuh ke dasar. Aku berdiri di atas kursi seraya mengikatkan bagian tubuhku dengan kain itu, bersiap untuk terjun menuju kebebasan dan..

 

Brakkk… kursi terhempas ke dasar lantai..

 

Di bawah pohon Ek, aku berdiri, berdiam diri menikmati udara pagi ini. Aroma segala rupa dunia tak lagi tercium, lalu

Aku bergegas meninggalkan Hviezdoslavova menuju rumah.. menuju rumah yang.. rumah yagn tak pernah kutau dimana..

Sebelum jauh meninggalkan cerita lama, kutolehkan lagi kepalaku menuju jendela kamarku yang kutinggal, kutatapi sekali lagi malang tubuh cantikku yang berbusana dodot yang tergantung tak bernyawa di ujung teralis besi.

 

Sekarang aku bebas bisa pergi.

 

 

 

 

 

Untuk Kartini, dunia dan Tuhan..

 

Apa salah kami sehingga menjadi bulan-bulanan dunia jika takdir memang mengkhendaki keberadaan kami seperti ini? Terlahir dari sebuah simbolisme kegagalan masa lampau, yagn Kami inginkan hanya sebatas hidup menjadi bebas dan normal tanpa takut harus mengakui masa lalu, tanpa harus dihukum oleh penilaian dan penalaran dari manusia yagn sok suci!!. Tanpa harus hidup termarjinalkan. Kami juga manusia, tidak ada yagn seberharga dan sebernilai manusia, tapi kami diperlakukan seperti sampah. Kami dilecehkan di wajah umum!!

Perjuangan Kartini memang dahsyat, tapi buat kami itu hanya cerita pun sejarah masa kanak belaka selama kami masih ditindas dan dieksploitasi.

 

 

Bekasi, at office 21 April 2009 (08.00-13.25 WIB)

Anastasia, Rizky dalam penantian document export ke Korea dan c/n menuju Lisbon, Portugal.

Advertisement

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.