Hmm.. coba kmu ingat lg deh…
April 2006
saat embun masih membasahi punggung daun..
Waktu itu aku crita ttg cakrawala yang digambari derit lahye, malaikat kecil yang selalu menangis hingga jemu..
Aku berpikir.. mungkin ada baiknya kita sama2 meninggalkan dunia dan mulai menggambar awan dengna darah kita saja..
Darah yagn ngalir deras dari nadi yagn terputus satu persatu.. dan pembuluh darah yagn pecah akibat desakan id yagn tak terkendali..
Lalu setelah itu.. kita sama2 akan gila.. menyanyi dan melepas nyawa, tak sadar..
Tak sadar krn aku masih ingat bau neraka yang menyumbat hidung dan mengendap di otak2 kita yang beku?? Sampai2 kita meraung seperti binatang karena juga mentertawakan diri.. hahaha.. lucu yah??
Lantas.. kamu menawarkan mati..
Aku mengangguk…
aku melepas pakaianku dan mecari pisau dibalik saku celanamu. Awalnya aku ragu.. tapi, km sangat pintar dalam hal membedah dan merobek..
Pelan-pelan kamu membantuku menhunus jantungku.. berkali2.. darahku hampir habis.. tapi kamu terus berubah menjadi iblis dan terus mencongkel dadaku merabut jantung yagn masih berdegup kencang..
Aku bilang padamu.. “berhenti..!! berhenti!!” tapi km tidak pernah dengar, karena auman dari neraka lebih memekakkan telingamu daripada jeritan kesakitanku..
Tak lama.. aku bisa merasakan tanganmu yang besar masuk ke dalam lubang dadaku.. dan mencabut jantung yang masih harum darah.. lalu kamu hanya tersenyum… puasssss… aku mati seketika itu..
Aku beranjak… lalu duduk di samping jendela menatap bulan yagn separuh pucat karena ringkikan iblis tak menggema lagi.. kulangkahkan kakiku keluar, menatap sepanjang jalan Setia budhi……. Sangat lelahhhhhhh….dan sepiiiii… sama sepinya, sesepi ruang dadaku yang tak terdengar lagi detak jantung..
Aku kembali kepadamu.. dan kutanyakan lagi.. untuk apa jantung itu?? Lantas kau bilang untuk sesembahan raja iblis yagn dahsyat..
Hmm.. aku hanya mengangguk setuju.. dan kutanyakan lagi.. mau kau mutilasi tubuhku??.. kau hanya diam menggeleng tak tahu..
“lalu.. mau dibuang dimana mayatku?”
Km cm bilang.. “bale endah.. mungkin…”
“jangan.. jangan di sana.. terlalu sepi kl kau buang mayatku di sana, pulangkan saja aku ke tempatku.. biar aku bisa bermanja2 pada tanah darah lahirku”
Lalu kau mengangguk setuju.. dan membawa tubuhku menuju rumah..
Di perjalanan subuh itu.. aku bertanya lagi..
“hm.. aku masih pengen hidup,, bisa kah??”
“bisa.. klo kau mau.. tapi hanya setengah..”
“setengah?? Setengahnya lagi dimana?”
“mati dan akan kubawa ke Kalimantan lalu ke neraka”
“ah ya.. buat apa? Iblis?”
“iya.. “
“hmm.. iya aku mengerti, dan kamu?? Kenapa tidak ikut mati juga?”
“masih ada ikatan dinas di departemen kehakiman, tidak bisa..”
“aku rasa bisa … kamu bisa mati sekarang atau minggu depan.. aku masih mau menunggu”
“tidak perlu.. aku blm siap”
“ ah ya.. aku mengerti sekarang apa itu bajingan..”
“benarkah?? Sapa yang mengajarimu?”
“Takdir yagn bilagn begitu..”
“hmm..mungkin”
“tapi saya masih tidak mengerti.. terangkan sekali lagi.. kenapa kmu bilang kmu juga mensujudkan kepala di masjid? Padahal kamu adalah murni pembankang?”
“jangan Tanya!”
“ya.. baiklah.. minggu depan, aku harap kamu celaka.. bagaimana?”
“benarkah?”
“iya.. baru saja aku berbicara pada Tuhan, memohon…”
“hmm.. km juga sagnat pintar menyeretku dalam derita, belajar darimana?”
“belajar dari waktu.. waktu yagn bilang begitu”
Sminggu kemudian Mei 2006..
“kamu datang juga?? Sudah mati??”
“baru setengah.. aku tabrakan tadi di moh. Toha”
“tapi .. kamu masih punya stengah untuk hidup, sama seperti aku..”
“tidak.. sudah mati setengah.. dan setengahnya kau pegang erat2 untuk dilebur di neraka”
“hmm.. Tuhan maha Adil.. kalo gitu.. sekarang.. kasih saya jantung itu.. bisa??”
“sudah busuk, sudah di buang di sungai citarum, masih berminat?”
“masih.. itu kan jantungku.. mau kusimpan saja, atau kutanam dekat2”
“jangan bermimpi.. sudah, sana pergi.. sudah ada yagn menungguku..”
“menunggu kamu?? Neraka kah??”
“iya.. “
“kalau gitu.. aku pamit.. sampai ketemu di negeri akhir.. aku masih rindu ingin mendebatmu habis2an..”
“kamu mau kemana sekrang??”
“berterbangkan kesana kemari, atau duduk menahan sakit..”
“kenapa bisa?”
“dagingku selalu menjerit, kadang aku tidak bisa tahan, dorongan id”
“aku minta maaf klo begitu”
“sudahlah..”
April 2009
Aku mencarimu.. kamu dimana?? Apa kmu benar2 sudah mati? Atau masih berterbangan menunggu tiupan sasangkala yagn memekakkan telinga??
Kamu dimana? Aku mau hidup lagi.. sekaliii lagii.. kembalikan semua darah, daging yang membusuk, juga jantung yang telah dilahap ulat2 tanah..
Lama kupandangi dunia luar dari jendela kamarku..
Dalam hati bicara “aku ingin hidup sehidup-hidupnya atau mati semati2nya..”
Smbil berdoa, aku menelan obat lagi.. menenangkan pikiran yang bertarung kelahi..